Nunik Sebut Akan Maksimalkan Nilai Tambah Produk Pangan

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Angka pengentasan kemiskinan di Provinsi Lampung hanya turun satu digit dari 14 persen menjadi 13 persen. Di Pulau Sumatera, Lampung masuk peringkat tiga dari bawah soal pengentasan kemiskinan. Apalagi di tingkat nasional, Lampung masih tertinggal jauh dari provinsi-provinsi lainnya.

Wakil Gubenur Provinsi Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik) mengatakan, setelah di potret oleh Badan Pusat Statistik (BPS), yang membuat miskin rumah tangga adalah beban makan.

“Yang membuat masyarakat kita miskin salah satunya adalah beban makan seperti sayuran dan bahan pokok. Artinya apa yang mereka panen itu akan langsung dijual,” ujarnya saat menghadiri rapat paripurna DPRD Provinsi Lampung penyampaian Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Provinsi Lampung tahun 2020, di ruang rapat DPRD setempat, Selasa (12/11/2019).

Menurut dia, APBD Provinsi Lampung kedepan akan digunakan untuk memaksimalkan produk yang mempunyai nilai tambah.

“Nantinya akan ada anggaran APBD yang akan kita gunakan ke sana (peningkatan nilai tambah), sehingga tidak hanya dijual mentah oleh masyarakat,” tutupnya. (Ria)

Sumber

Wagub Chusnunia Soroti Isu Kedaulatan Pangan

BANDAR LAMPUNG (Lampost) — Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) apresiasi berbagai produk UMKM Lampung yang tampil pada Expo Kedaulatan Pangan di Paradise Lounge, Hotel Novotel, Jumat, 20 September 2019.

Kegiatan itu diselenggarakan atas kerjasama Pusat Inkubasi Bisnis Syari’ah Majelis Ulama Indonesia (Pinbas MUI) dengan Pemerintah Provinsi Lampung, kabupaten/kota yang berlangsung pada 20-22 September 2019.

“Alhamdulillah acara ini bisa mengapresiasi berbagai produksi UMKM yang beragam, dari makanan, kerajinan tangan dan sebagainya termasuk ada produk-produk inovasi, produk pertanian, pertanian organik dan sebagainya,” ujar Chusnunia.

Chusnunia berharap semua pihak mendukung UMKM agar terus berkembang di Lampung dan sebagai upaya menuju kedaulatan pangan. “Semua itu butuh kolaborasi antara MUI dan juga pemerintah pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota,” katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi MUI Pusat, Lukmanul Hakim mengatakan MUI sendiri telah melakukan reformasi kelembagaan dan reformasi pemikiran pergerakan termasuk gerakan dalam kemandirian umat dibidang ekonomi.

“MUI tidak hanya bicara tentang dakwah tetapi juga bicara tentang pergerakan, bagaimana gerakan kita yang dapat kita turunkan dalam berbagai bentuk kegiatan salah satunya gerakan kemandirian umat dibidang ekonomi,” ujarnya.

Direktur Pinbas MUI, Azrul Tanjung mengatakan bahwa MUI berkepentingan terhadap pembinaan ekonomi umat secara keseluruhan karena ekonomi umat menyangkut kehidupan umat.

“Selama ini jika mendengar kata MUI yang kita tahu ialah fatwa dan halal, tetapi dalam lima tahun terakhir MUI mulai memikirkan secara serius tentang ekonomi umat,” ujarnya.

Azrul menyebutkan kedaulatan pangan ini menjadi penting, terutama Indonesia merupakan negara yang besar yang kedepan diharapkan tidak lagi ketergantungan pada import pangan.

“Kenapa kedaulatan pangan? Agar bagaimana petani dan nelayan benar-benar berdaulat,” katanya.

Azrul menyebutkan selama pelaksanaan kegiatan ini, MUI mengundang ormas islam ditingkat pusat, MUI ditingkat Provinsi dan para pelaku ekonomi untuk duduk bersama membahas tentang persoalan pangan.

“Terimakasih juga terhadap pemerintah daerah yang antusias membantu kita,” ucapnya.

Sumber

Wakil Gubernur Chusnunia Jadi Ketua Harian Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Lampung

Jejamo.com, Bandar Lampung – Ketua Umum Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Djoko Sidik Pramono melantik Wakil Gubernur Lampung Chusnunia sebagai Ketua Harian Maporina Provinsi Lampung masa bakti 2019-2024.

Pelantikan Wagub Nunik yang berlangsung di Lembah Hijau, Kamis (19/9/2019) berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Nomor 19/A/MP/KEP/IX/2019 .

Dalam sambutannya, Nunik bertekad menjadikan Lampung menjadi basis pertanian organic di Indonesia.

Untuk itu ia mengajak pengurus Maporina di Provinsi Lampung berperan aktif meningkatkan minat masyarakat dengan mengkonsumsi makanan organik (alami).

Sebab, selain produk organik lebih sehat, pertanian organik juga menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani.

“Sekarang ini ketergantungan akan pestisida sangat tinggi sekali. Efeknya bukan hanya dari sisi kesehatan juga berpengaruh pada kualitas tanah dan juga membahayakan kulit petani karena terkena bahan kimia,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Akunting Taman Wisata dan Satwa Lembah Hijau Rini mengucapkan terima kasih karena telah memercayakan Lembah Hijau Lampung sebagai tempat gathering dan pelantikan Maporina Lampung.

Rini berharap Maporina Lampung bisa sukses dalam menjalankan semua program kerjanya.

“Semoga berkesan dan sukses selalu buat Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung,” ujarnya. [Widyaningrum]

Sumber

Ketua Umum Maporina Lantik Wagub Lampung Chusnunia Sebagai Ketua Harian Maporina Provinsi Lampung

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Ketua Umum Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Djoko Sidik Pramono melantik Wakil Gubernur Lampung Chusnunia sebagai Ketua Harian Maporina Provinsi Lampung masa bhakti 2019-2024.

Ketua Umum Maporina Lantik Wagub Lampung Chusnunia Sebagai Ketua Harian Maporina Provinsi Lampung (Ist)
Pelantikan Wagub Nunik yang berlangsung di Lembah Hijau, Kamis (19/9/2019) berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Nomor 19/A/MP/KEP/IX/2019 .

Dalam sambutannya, Nunik bertekad menjadikan Lampung menjadi basis pertanian organic di Indonesia. Untuk itu ia mengajak pengurus Maporina di Provinsi Lampung berperan aktif meningkatkan minat masyarakat dengan mengkonsumsi makanan organik (alami), karena selain produk organik lebih sehat, pertanian organik juga menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani.

“Sekarang ini ketergantungan akan pestisida sangat tinggi sekali, efeknya bukan hanya dari sisi kesehatan juga berpengaruh pada kualitas tanah dan juga membahayakan kulit petani karena terkena bahan kimia,” ujarnya.

Selain akan memajukan pertanian organik, Nunik juga mengajak para penyuluh pertanian se Provinsi Lampung untuk mengenalkan konsep urban faming (berkebun diperkotaan) kepada masyarakat. “Kalau dulu, image pertanian sesuatu yang sulit, ribet, lahan harus luas, hasil jual rendah, sekarang ada konsep baru yang menarik yakni urban farming.”

Saat ini urban farming telah menjadi tren gaya hidup dan daya tarik bagi generasi milenial sebagai solusi pertanian dimasa mendatang, “karena urban farming selain akan menghasilkan makanan yang lebih sehat juga menguntungkan dari sisi ekonomi karena harga jual produknya yang lebih tinggi dan tidak ribet” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Maporina Djoko Sidik Pramono mengatakan saat ini Indonesia sedang bersaing dengan Negara lain dalam segala hal termasuk dalam bidang pertanian. Untuk itu, ia mengatakan penting untuk menyiapkan sumber daya pertanian terutama dalam menghadapi revolusi industry 4.0.

“Untuk bisa memenangkan revolusi industry kuncinya satu, penta helik yakni kita harus bekerja bersama tidak bisa sendiri-sendiri. Masyarakat, pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan media harus bekerja bersama. Lima unsur ini harus bersatu mengembangkan komoditas yang ada,” ungkap Djoko.

Pada kesempatan tersebut, Wagub Nunik juga menyerahkan sejumlah penghargaan kepada penyuluh pertanian teladan dan berprestasi, kelembagaan ekonomi berprestasi, gapoktan berprestasi. (*)

Sumber

Hutan Register 38 Rusak, Petani Merintih Panen Padi Tidak Maksimal

Kupastuntas.co, Lampung Timur – Danau Kemuning yang ada di Desa Sribhawono, Kecamatan Bandarsribhawono,Lampung Timur, menjadi penopang untuk 4 ribu hektare lebih daerah sekitarnya. Namun kelestarian sumber danau kemuning juga tergantung dengan kondisi hutan register 38 Gunung Balak.

Data yang didapat dari Unit Pengelolaan Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Register 38, kerusakan hutan yang lebih dari 90 persen berdampak pada tekanan air danau Kemuning yang mengairi ribuan hektare sawah.

Kepala UPTD Pengairan Way Curup, Kecamatan Matarambaru, Suratman saat ditemui, Kamis (23/5/2019) mengatakan dampak dari rusaknya hutan Gunung Balak, berimbas pada tekanan air saat cuaca berubah. Artinya pada saat musim hujan cepat terjadi banjir namun air tidak terserap. Sedangkan saat musim kemarau kondisi sungai Way Curup mudah mengering. Dampak tersebut langsung dirasakan oleh petani.

“Tentu yang utama rusak serapan air hujan sudah tidak maksimal, dan saat musim kemarau tidak lagi ada pohon yang berfungsi sebagai penyerap air,” kata Suratman.

Data baku luasan sawah yang tergantung pada danau kemuning adalah seluas 4.700 hektare, sedangkan data formalnya 3.629 hektare. Dalam satu musim petani bisa melakukan garapan sebanyak dua kali tanam, namun saat musim gadu yang sering menjadi persoalan keberadaan air yang kurang merata.

Selain persoalan debit air. Pendangkalan jalan sungai Way Curup juga menjadi rintihan petani. Sungai yang mengalami pendangkalan sepanjang 20 kilo meter yang terbagi di empat desa yaitu, Srigading, Kebundamar, Karanganyar dan Mandalasari.

Dampak dari pendangkalan, yaitu saat musim hujan air cepat naik ke permukaan sungai dan membanjiri ribuan sawah yang ada di empat desa tersebut. Namun jika pemerintah melakukan pengerukan air akan mengalir lancar hingga ke muara (laut Kuala penet).

“Pengerukan sungai juga menjadi harapan petani untuk meningkatkan produksi padi,” kata Suratman. (Gus)

Sumber

Tekad Agus Trijoko Kembalikan Kejayaan Petani Kakao Lampung Timur

Mataram Baru,(SN) – Di era awal tahun 2000-an para petani di Lampung Timur mengalami masa kejayaan, khususnya di bidang perkebunan Kakao. Di masa itu penghasilan petani perkebunan Kakao bisa di katakan cukup sejahtera, karena budidaya Kakao pada waktu itu benar benar bisa memberikan peningkatan kesejahteraan bagi para petani.

Petani kakao sejahtera karena harga kakao saat itu cukup baik, dan penangananya pun cukup mudah. Namun, sejak maraknya hama, perkebunan kakao tidak lagi menjadi primadona buat petani.

Agus Trijoko(36), warga desa Teluk Dalem kecamatan Mataram Baru Lampung Timur, bertekad mengembalikan kejayaan perkebunan Kakao di Lampung, khususnya di kabupaten Lampung Timur.

Bekerjasama dengan PT Papandayan Cocoa Industries, sebuah perusahaan Exportir Kakao, yang juga melakukan mengembangkan pada bibit Kakao klon yang unggul dan untuk di budidayakan di indonesia. Agus Trijoko siap untuk menjadi pemasok Bibit Kakao unggulan bagi para pekebun di Lampung Timur.

“Jenis yang kami kembangkan adalah Bibit sambung Pucuk MCC (Masamba Cocoa Clone), bibit ini sudah masuk rekomendasi dari Kementrian Pertanian dan sudah digunakan secara Nasional. Bibit ini memiliki kelebihan, yakni potensi produktifitas yang mencapai 3 ton per hektare per tahun, dan mempunyai ketahanan terhadap hama dan penyakit utama pada kakao,” jelas Agus kepada peliput, (17/5/2019).

Masih dalam penjelasan Ayah dua anak ini, bahwa bibit yang dia kembangkan sangat tahan terhadap penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) atau penyakit pembuluh kayu, Busuk Buah Kakao (BBK) dan hama Penggerek Buah Kakao (PBK).

“Jika di berikan perawatan yang sama dengan tanaman Kakao pada umumnya, bibit ini memang mempunyai kelebihan,”masih kata Agus.

Menurut Agus, untuk di Lampung yang sudah budidaya bibit seperti ini adalah kabupaten Pringsewu dan Pesawaran, di Lampung Timur kecamatan Sekampung Udik. Dan untuk saat ini respon petani sangat bagus dan timbul semangat kembali dalam budidaya perkebunan Kakao ini.

“Saat ini kamu sudah mempersiapkan 25 ribu bibit tersebut dan siap untuk di tanam, dengan harga Rp10.000, per batang, seterusnya kami akan siapkan lagi, semoga petani Kakao kembali berjaya dan taraf ekonomi masyarakat bisa terangkat” Pungkasnya.(@nd)

Sumber

Tiap Musim Hujan, 250 Hektare Sawah di Desa Brajahluhur Lamtim Selalu Gagal Panen

Kupastuntas.co, Lampung Timur – Rawa Lebak seluas 250 hektare yang ada di Desa Brajaluhur, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur, selalu mengalami banjir setiap musim hujan tiba. Hal itu berdampak pada rusaknya tanaman padi milik warga hingga ketingkat gagal panen.

Rawa Lebak merupakan areal sawah berjenis rawa yang dimanfaatkan pemiliknya untuk bercocok tanam padi. Rawa Lebak yang ada di Desa Brajaluhur, berdampingan langsung dengan sungai sebagai pembatas hutan Taman Nasional Way Kambas dengan lahan masyarakat. Pada musim hujan sungai tersebut meluap hingga membanjiri lokasi tanam petani.

Ketua Gapoktan Desa Brajaluhur, Saimun saat ditemui, Minggu (12/5/2019) mengatakan, di Brajaluhur terdapat 536 hektare rawa Lebak. Dari jumlah tersebut 286 hektare sudah dibentengi tanggul penangkis banjir sepanjang 4.850 meter. Sedangkan 250 hektar belum di bangunkan tanggul penahan banjir.

“Kami meminta kepada pemerintah agar bisa membangunkan lagi tanggul penahan banjir untuk rawa Lebak yang 250 hektar,” kata Saimun.

Saimun menjelaskan, pada 2018 lalu pemerintah pusat sudah membangunkan sebuah tanggul penahan banjir sepanjang 4.850 meter untuk membentengi rawa Lebak seluas 286 hektar, dan hasilnya sangat maksimal untuk mengatasi persoalan banjir.

“Setelah terbangun tanggul kami bisa menanam satu tahun dua kali tanam, meskipun musim hujan kami tidak khawatir lagi,” terang Saimun.

Sementara pengakuan petani rawa Lebak Desa Brajaselebah Paido, dengan terbangunnya tanggul penahan banjir, hasil panen bisa maksimal dalam satu hektare bisa mendapatkan 7-8 ton gabah, sebelum terbangunnya tanggul dalam satu hektar maksimal hanya 6 ton gabah.

“Karena air pasti meluap dan membanjiri tanaman sebagian tanaman pasti rusak, sekarang sudah tidak lagi.” kata Paido.

Namun dengan terbangunnya tanggul tersebut, menimbulkan cemburu sosial bagi petani lain yang sawahnya belum terbentengi dengan tanggul, mereka berharap pemerintah agar bisa melakukan pemerataan pembangunan tanggul guna kesejahteraan petani. (Gus)

Sumber

Festival Lada bangkitkan minat budi daya rempah-rempah di Lampung Timur

Sukada, Lampung Timur (ANTARA) – Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Timur terus berupaya membangkitkan kejayaan rempah-rempah di daerah itu, terutama budi daya lada, melalui strategi pemberian bibit dan menyemangati pekebun membudidayakan komoditas unggulan tersebut lewat Festival Lada.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Timur, M Yusuf HR, di Lampung Timur, Selasa, menjelaskan bahwa belakangan ini minat pekebun di wilayah Lampung Timur membudidayakan komoditas rempah-rempah seperti kopi, cokelat, dan lada cenderung menurun.

Menurut dia, banyak petani yang beralih ke tanaman jagung, karet, sawit, dan singkong.

“Yang menanam lada ada, luas tanamnya nambah, tapi tidak signifikan, karena keterbatasan lahan. Pekebun sudah senang menanam jagung, ubi kayu, sehingga cukup susah mengajak mereka untuk berkebun lada lagi,” kata Yusuf.

Sejalan dengan program pemerintah pusat untuk mengembalikan kejayaan rempah, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Timur berupaya agar ada penambahan luas lahan komoditas rempah-rempah, terutama lada, melalui program rehabilitasi dengan memberikan bantuan bibit.

“Kalau ada yang mau menanam lada kita bantu bibit,” ujar Yusuf. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah banyak memberikan bantuan bibit lada kepada petani.

Pada tahun 2017 pihaknya memberikan bantuan 5.000 bibit batang lada dan pada tahun 2018 juga sebanyak 5.000 batang bibit.

Dia menjelaskan Festival Lada yang digelar beberapa waktu lalu merupakan motivasi dan ajakan kepada warga untuk bergairah kembali menanam lada.

“Festival Lada dalam rangka menggairahkan kembali masyarakat menanam lada dan yang sudah menanam agar jangan beralih ke tanaman lainnya. Lada juga bisa jadi potensi wisata yang menarik, wisatawan bisa memetik lada langsung,” kata dia pula.

Sumber

Harga Jual Kakao Rp23 ribu di Lampung Timur

Sukadana, Lampung Timur (ANTARA) – Harga jual biji kakao di Kabupaten Lampung Timur sekarang mencapai Rp23 ribu per kilogram.

“Kopi kakao yang jemur tiga hari harganya Rp23 ribu sampai Rp25 ribu per kilogram, kalau yang dijemur sehari sekitar Rp19 ribu perkilogram, ” kata Joko, pekebun kakao di Desa Pakuanaji Lampung Timur, Rabu (27/3).

Menurut Joko, harga tersebut lumayan bagus untuk saat ini.

“Harganya lumayan tinggilah segitu, kalau hasil produksi sekarang agak berkurang,” ujarnya.

Joko mengharapkan tetap ada perhatian pemerintah kepada petani kakao.

“Petani kakao berharap kepada pemerintah, bantu petani mulai dari penyuluhan, bantuan alat pengolahan kakao, pupuk, obat-obatan, bantuan bibit karena selama ini yang membantu seperti itu dari perusahaan-perusahaan pembeli
kakao justru kalau dari pemerintah perhatiannya masih kurang,” katanya.

Menurut Joko, minim nya perhatian pemerintah membuat sejumlah petani kakao beralih ke komoditas lain meskipun banyak pula yang mempertahankannya.

“Banyak yang ditebang, dan memilih menanam singkong,” ujarnya.

Kamidi, Kepala Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribahawono dihubungi berharap perhatian lebih pemerintah kepada petani kakao di desanya.

Penyuluh diharapkan turun ke lapangan memberi penyuluhan kepada petani kakao dan instansi terkait lainnya ikut memfasilitasi harga pasar agar layak diterima.

“Mohon kepada dinas, instansi terkait ikut memfasilitasi harga kakao agar bagus diterima, ” ujarnya.

Menurut Kamidi, banyak warganya menanam kakao namun tidak sedikit yang telah mengubahnya menjadi lahan tanaman singkong dan agung. Padahal semangat berkebun kakao tinggi.

“Ada yang alih fungsi lahan, alasannya karena pohonnya sudah tua, ada penyakit buah, warga juga tertarik harga singkong yang tinggi jadi beralih menanam singkong,” katanya.

Kamidi menyebutkan, harga jual kakao di desanya saat ini di atas Rp15 ribu per kilogram.

Kabupaten Lampung Timur punya lima komoditas perkebunan unggulan, Lada, kakao, Karet, Sawit, kelapa.

Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lampung Timur menyebutkan capaian produksi kakao enam tahun terakhir.

Realisasi tahun 2013 7.445 ton, tahun 2014 7.415 ton, tahun 2014 5.138 ton, tahun 2016 3.543 ton, tahun 2017 2.885 ton, tahun 2018 3.228 ton.

Adapun capaian areal lahan tanaman kakao, tahun 2013 13.667 hektare, tahun 2014 12.860 hektare, tahun 2015 10.922 hektare, tahun 2016 10.991 hektare, 2017 10.806 hektare, tahun 2018 10.910 hektare.

Sumber

13,725 Ton Benih Siap Disalurkan ke Petani di Lampung

SUKADANA (Lampost.co)–Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Kabupaten Lamtim, siapkan penyaluran bantuan benih sebanyak 13,725 ton.
Bantuan benih tersebut akan disalurkan guna membantu petani di tiga kecamatan yang tanaman padinya sudah mengalami puso akibat terendam banjir beberapa waktu lalu.
Kasi Perlindungan Tanaman pada Dinas PTPH Kabupaten Lamtim, Hadi Makrum, Rabu (27/3/2019) menjelaskan, beberapa waktu lalu banjir merendam ratusan hektare tanaman padi di lima Kecamatan yaitu Metro Kibang, Batanghari, Sekampung, Jabung dan Waway Karya.

Karena banjir luapan sungai Way Sekampung akibat intensitas curah hujan yang cukup tinggi merendam tanaman padi petani hingga berhari-harii, maka ratusan hektare tanaman tersebut akhirnya mengalami puso.

Menyikapi hal itu, kata Hadi, pihak Pemkab Lamtim sebelumnya memang telah menganggarkan dana untuk pengadaan benih sekitar 15 ton pada 2019 untuk membantu para petani yang tanaman padinya puso karena terendam banjir.
“Artinya untuk membantu petani yang tanaman padinya sudah benar-benar puso Pemkab melalui Dinas PTPH Kabupaten Lamtim siap menyalurkan bantuan karena memang sudah dianggarkan pada 2019 ini,” katanya

Dijelaskan juga oleh Hadi, hingga Rabu (27/3/2019), tercatat baru 20 gabungan kelompok tani (Gakpotan) dari tiga Kecamatan yaitu Sekampung, Jabung dan Waway Karya yang mengajukan permintaan bantuan benih karena tanaman padi mereka seluas total 549 hektare sudah mengalami puso karena terendam banjir.
Dari total luas tanaman padi 549 hektare yang sudah puso di tiga kecamatan itu, 20 Gapoktan tersebut mengajukan permintaan bantuan benih mencapai total 13,725 ton.

Selanjutnya tandas Hadi, karena pada 2019 memang sudah dianggarkan pengadaan benih sekitar 15 ton untuk membantu petani yang padinya puso karena banjir, maka permintaan bantuan benih dari 20 Gapoktan di tiga kecamatan itu langsung disetujui.

Sumber